Menanamkan Nilai Kewirausahaan

wirausaha 2

sumber gambar : teropongbisnis.com

Membimbing siswa bukan hanya transfer ilmu saja. Mendidik anak mesti dibarengi dengan cinta dan kasih sayang. Karena secara esensial, kita tidak tahu masa depan anak sendiri. Mereka akan lebih paham dan merancang dunia mereka sendiri. Dunia orang dewasa bukan untuk anak-anak. Sehingga yang bisa dilakukan adalah membimbing mereka dengan cinta dan kasih sayang.
Dalam era globalisasi ini persaingan hidup semakin ketat dan penuh kompetisi. Hanya mereka yang kreatif saja yang mampu bertahan. Melakukan hal-hal yang bersifat inovasi akan membuka peluang dan merebut lebih banyak kemungkinan berhasil dari pada duduk manis menunggu perintah. Guru yang baik adalah mereka yang mampu menjadi inspirasi bagi siswa. Namun guru yang lebih baik adalah mereka yang mampu membangkitkan ghirah (semangat) siswa untuk menemukan jati dirinya. Kreatifitas dan inovasi yang dikembangkan oleh siswa memang berasal dari energy yang disalurkan oleh guru. Untuk dapat menemukan simpul-simpul potensi dari siswa ada beberapa usaha yang bisa digerakkan oleh seorang guru.

Menanamkan nilai social enterprise. Bekerja sebagai ibadah adalah sebagai landasan dan sekaligus filosofi hidup. Bahwa bekerja bukan saja semata-mata mencari lembar rupiah untuk bertahan hidup, tapi bekerja merupakan ibadah. Nilai tersebut terkandung sebagai sebuah spirit bahwa manusia memang terlahir hanya tergantung pada sang pencipta. Sejak lahir, manusia dalam keadaan tidak mampu. Ia dibimbing dan dibesarkan oleh orang tuanya. Kehidupan terus berproses sampai tua renta. Tak berdaya secara fisik. Mereka kembali menjadi manusia yang tak berdaya. Ini mengisyaratkan bahwa manusia tetap harus berusaha, namun garis keputusan tetap ada di atas. Maka sangat tepat bila bekerja hanya sebagai ibadah.
Pengembangan Manajemen. Nasib jangan dimaknai sebagai kepasrahan belaka. Nasib harus diluruskan sebagai bagian darinusaha yang sungguh-sungguh. Oleh karenanya ada factor usaha. Ada perilaku mulai dari perancangan sampai hasil. Perilaku inilah kalau dalam Bahasa modern dinamakan manajemen. Mulai dari merancang, proses, bahkan sampai pada tahap evaluasi. Tahap ini bisa dipelajari. Faktor gen, nasib, potensi bisa dikelola sehingga usaha yang akan dilakukan akan menunjukkan kemungkinan besar berhasil.
Menata ritme pekerjaan memerlukan perpaduan antara ketrampilan dan seni. Ketrampilan didapatkan dari keahlian ataupun profesi. Sedangkan seni diperoleh melalui pengalaman berinteraksi dengan sesama. Semakin banyak berinteraksi dengan masyarakat, semakin banyak keahlian yang didapatkan.
Dalam mengolah manajemen memakai semboyan POAC (programming, organisation, administration, controlling). Tiga yang pertama sudah terbiasa dilakukan. Bahkan mungkin terlalu hafal. Namun ada satu fungsi yang sering terlupakan. Controlling. Fungsi pengawasan banyak yang mengabaikan. Bisa jadi unsur kekerabatan dan kekeluargaan lebih dominan, sehingga pengawasan menjadi tidak terkontrol.
Untuk dapat mengembangkan nilai-nilai yang ada terkandung dalam lembaga pendidikan, maka visi, misi dan tujuan sekolah menjadi pegangan. Karena dari sanalah sesungguhnya jalan yang hendak dituju. Visi adalah sebuah tatapan jalan yang hendak dituju namun sebenarnya kurang mustahil terwujud. Karena visi merupakan tataran ideal. Manakala visi bisa diujudkan dengan konkrit, sesungguhnya tujuannya sudah tercapai. Organisasi harus membuat visi lagi yang lebih tinggi, agar langkah ketercapaiannya menjadi kegiatan yang terus menerus. Misi marupakan bagian kecil dari visi, namun lebih bersifat teknis. Adapun tujuan memuat beberapa indicator sebagai sarana untuk melakukan aktifitas.
Dari wawasan dan langkah-langkah di atas, sebagai lembaga pendidikan, sekolah mestinya bisa mewujudkan keinginan dan gagasan secara nyata agar siswa dapat memperoleh ilmu dan ketrampilannya untuk mewujudkan siswa yang mandiri dalam berwirausaha. Sudah berapa kali msekolah menyelenggarakan manajemen. Sudah berapa kali sekolah melaksanakan pelatihan budaya kompetisi. Seudah sekian kali sekolah juga melaksanakan pemberdayaan sumber daya manusia. Sekolah bisa diibaratkan sebagai langkah awal siswa untuk merancang dan mengembangkan ketrampilannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *