Hukuman

hukuman

sumber gambar : koranmuria.com

Manusia diciptakan untuk dicintai. Jadi dihukum merupakan penyelewengan dari tujuan ciptaan. Namun, oleh karena manusia adalah makhluk berbudi dan berkemauan bebas, ia mampu untuk menolak dicintai. Ini berarti bahwa rencana dan tujuan ciptaan dikacaibalaukan. Dan ini sudah dimulai waktu manusia lahir. Demikian pendapat J. Drost, SJ. Seorang pemerhati pendidikan.
Lebih jauh beliau mengatakan bahwa mencintai dan dicintai adalah kebutuhan paling mendasar. Secara konkret, itu berarti perhatian sejati orangtua terhadap anaknya, bukan perhatian buatan. Anak membutuhkan bimbingan. Tetapi tetap bertumpu pada asas pokok, ialah anak harus diterima apa adanya. Jangan menuntut kepada anak yang tidak sesuai dengan kemampuan intelektual atau fisik.

Anak harus diantarkan pada masa sosialisasi dalam lingkungan yang mendukung iklim pertumbuhan yang sehat jasmani dan rohani. Bila dikampung, pilihlahkan teman yang mampu menjadi sahabat. Karena teman tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan jiwa sang anak. Sebagian waktu pasti dihabiskan untuk bercengkerama dengan teman. Mereka punya aturan tersendiri dalam pergaulan. Sehingga sebagai orangtua diharapkan waspada terhadap pergaulan anak di kampung halaman.
Saat sudah berumur, anak juga harus dikenalkan pergaulan yang lebih luas lagi. Sekolah atau pondok. Di kedua lembaga tersebut pergaulannya lebih komplek. Tata cara berinteraksi dengan teman sejawat juga sudah diatur sesuai dengan kondisi setempat. Siswa sudah dikenalkan pada aturan tertulis. Ada kewajiban yang mesti dilaksanakan, ada pula larangan yang harus dihindari. Karena lingkungan baru tersebut merupakan komunitas yang berasal dari aneka ragam masyarakat.
Aturan tersebut semestinya untuk dijalankan. Manakala anak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tata tertib, akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya kalau anak melaksanakan aturan, sebaiknya diberi penghargaan. Inilah yang mungkin dilupakan oleh manajemen lembaga pendidikan. Sekecil apapun penghargaan sangat berkesan buat siswa atau santri.
Tata tertib semula dibuat agar di sekolah atau pondok awalnya dibuat hanya agar pergaulan tampak harmonis. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Aturan dibuat bukan untuk menakuti, namun untuk kebersamaan dalam perilaku. Berbeda dengan akademik. Tidak mungkin semua siswa atau santri memiliki tingkat intelektualitas yang sama.
Andai semua melaksanakan tata tertib atau aturan yang telah disepakati bersama niscaya tujuan pendidikan akan lebih cepat terpakai. Tetapi manusia, seperti yang telah diurai di atas, mempunyai keunikan. Ada itikad untuk melawan. Sehingga sering muncul jargon, bahwa aturan dibuat untuk dilanggar. Suatu pernyataan yang salah dan tidak mendidik. Solusi yang tepat adalah lebih banyak memberi penghargaan dari pada harus sering menghukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *