To Be a Parent

Rohmatunnazilah – A Mommy Shark

Saya bukan psikolog juga bukan motivator. They called me “Mommy Shark” karena sifat keras yang kadang tidak banyak memberi kompromi. Alasannya hanya simple, jika dalam hidup itu hanya ada dua hal antara hal mudah dan sulit, maka keduanya hanya akan terkait dengan kapan diletakkannya, kemudahan di depan terlebih dahulu atau di belakang. Jika kita meletakkan kemudahan terlebih dahulu, maka kesulitan akan menghadang kita belakangan dan sebaliknya.
Jika seorang ibu sudah punya penetapan mana yang duluan dia berikan pada anaknya, maka itulah yang akan dia lakoni hari demi harinya. Menyiapkan dan menata masa depan tidaklah mudah. Masih banyak variable ‘kejut’ yang mungkin akan kita temui selain rencana-rencana yang kita tetapkan.
Pengalaman sebagai orangtua inilah yang menjadi modal untuk menyanggupi mengisi sesi parenting di SD Unggulan Aisyiyah Ngemplak Sleman.

Dengan konsep “Happy School, Happy Learning” sekolah ini bertumbuh dari sebuah cita-cita para pendirinya mencari bentuk tentang konsep sekolah yang menjadi tempat belajar menyenangkan bagi peserta didik, orangtua, guru dan managemen. Sebagai sekolah baru yang hanya memiliki 30 murid dari kelas 1 sd 4, masih relatif mudah menjalaninya. Pemberdayaan komite sekolah cukup diberi ruang untuk bersama membangun ekstra-kurikuler bagi anak-anak mereka.
Sudah terhitung tiga atau lebih mengisi parenting dengan pola yang saya kira berbeda dari layaknya parenting yang disampaikan para nara sumber profesional, saya lebih mengrahkan sesi parenting pada sebuah target, yakni “Apakah kita berani menjadi orangtua”, “Bagaimana menjadi orangtua”, dan “Berlatih menjadi orangtua”. Setelah sesi yang ketiga atau keempat, saya diminta mengisi lagi dan pikiran saya menuju pada ketiga poin ini pada sebuah konsep bahwa mereka benar-benar memasuki proses “think, plan and do” pada sesi ini sehingga saya buat kemasan Forum Group Discussion (FGD). Boleh juga saya menganggapnya sebagai bentuk eksperimen untuk menemukan bentuk dari proses sebelumnya. Dengan menetapkan sebagai sebuah sekolah “Happy Learning, Happy School” maka peran pola asuh orangtua akan menjadi satu bagian penting untuk mendapatkan templete bagi realisasi konsep ini.
Dimulai dengan memberikan orientasi pada contoh pendidikan dari negara Finland, sebagai sebuah model pendidikan yang mengoptimalkan potensi peserta didik dengan prinsip memperlakukan mereka sebagai subyek yang memiliki ciri-ciri dab karakternya sebagai ‘manusia’ dan konsep pola komunikasi yang ramah pada anak, diskusi lalu menetapkan tiga tema yang disepakati oleh forum. Nara sumber hanya bertindak sebagai fasilitator yang mendesain pada optimalisasi keterlibatan orang tua sebagai peserta. Mendorong keberanian orangtua untuk mengungkap apa yang terjadi di rumah dan berani mengungkapkannya adalah inti dari FGD ini. Saling bercerita pengalaman diharapkan memberi keberanian saling sharing, saling memberi dukungan, saling memberi keterlibatan antar orangtua membuat forum ini bersepakat pada prinsip: semua orangtua adalah orangtua bagi semua siswa di sekolah, persoalan atau kasus pada salah satu peserta adalah kasus semua pihak sehingga semuanya wajib memberi dukungan menyelesaikannya, dan kemajuan bagi peserta didik adalah target bersama yang memungkinkan setiap orangtua menjadi penyumbang bagi tujuan bersama.
Beberapa insight yang saya saksikan dari proses ini. Saat saya menonton sebuah film tentang pola penyembuhan kasus-kasus penyembuhan adiksi pada minuman atau narkoba yang menggunakan penyembuhan melalui pola diskusi untuk saling mengungkapkan kemajuan proses kesembuhan kasus, saya menyaksikannya berlangsung pada sesi ini. Setiap kelompok menyampaikan kasus sekaligus memberi penyelesaian kasus dengan pola berkisah berdasarkan apa yang sudah dilakukan di rumah, merasa saling memiliki antara orangtua bagi setiap anak, dan keterlibatan orangtua pada kemajuan anak benar-benar saya saksikan secara riil selama diskusi berlangsung dilanjutkan setiap kelompok tampil menyampaikan hasil diskusi dan saling merespon kasus antar tema kelompok menjadikan orangtua sebagai peserta diskusi menjadi tidak bosan karena mereka harus menyampaikan sesuatu yang bagi mereka penting, bahkan ada orangtua yang mengisahkan pengalaman dirinya saat menemukan turning point dirinya dan menginspirasi peserta lain.
Saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga tentang konsep Happy School yang dicita-citakan pendiri sekolah ini adalah berada pada keterlibatan dan komitmen bersama antar stake-holder dan orangtua adalah bagian terpentingnya.
Demikianlah pengalaman mendesain parenting dengan pola FGD bagi saya adalah pola efektif untuk memberanikan orangtua benar-benar berani dan tahu bagaimana menjadi orangtua.

Happy mother’s day para ibu dan orangtua se-Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *