Sekolah Versus Bimbel

oleh : Rahmatunnazilah (Guru di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta)

Setiap kali Prof Imam membicarakan tentang sekolah versus bimbel, saya sangat terganggu. Sejak itu (entah sejak kapan Prof Imam ROBANDI (ITS) menyentil-nyentil masalah ini), saya menjadi membuat refleksi dan menanyakan ke diri saya, saya bisa ngga menjamin siswa saya tanpa mereka masuk kelas Bimbel dan nilai mereka bagus.

Setiap tahun saya selalu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada strategi mengajar. Yang saya rasakan adalah semakin saya sendiri melakukan inovasi pada strategi belajar dan teknik membaca untuk keperluan apapun, saya merasa lebih tertantang menyampaikannya pada siswa saya. Hal ini saya selalu declare-kan bahwa ‘Tidak mungkin seorang guru mengajari siswanya belajar membaca/menulis, tanpa dia sendiri tidak suka membaca/menulis’. Gampangnya begini, kalau anda mengisahkan enaknya empek-empek, tanpa anda memakannya. Saya tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Saya hanya mengisahkan pengalaman saya sendiri. Saat saya masih kesulitan memahami teks berbahasa Inggris untuk diri saya, takkan mungkin saya mengajarkan bagaimana strategi membaca dengan mudah. Saat saya masih mengalami kesulitan menjawab soal, takkan mungkin saya mengatakan soal ini mudah dikerjakan dengan cara ini atau itu.

Paragraf yang saya screen shoot ini bagian yang luar biasa. Cuplikannya begini ‘Membelokkan habit menghapal menjadi menalar adalah tidak semudah memecah telor bebek mentah saat membuat martabak manis terang bulan’.

Saya akan mengambil frasa Membelokkan habit menghapal menjadi menalar adalah tidak mudah. Prof Imam Robandi (ITS) emang jagonya menghancurleburkan nalar orang dengan memberi selingkungan yang membuat kita mengernyit dengan frasa memecah telor bebek saat membuat martabak manis (terang bulan). Pikirlah bagian ini dengan kritis. Kalau telor bebek enak dipecahkan untuk martabak daging, entah apa yang ada dipikiran pembaca saat Prof Imam Robandi (ITS) malah memakainya pada martabak manis. (Smile kecut, bikinlah tafsir dengan kritis).
Pesan saya, saat berpikir kritis jangan takut pada anggapan bos anda atau suami anda karena anda takkan mampu berpikir kritis saat kebanyakan takut apa yg dipikirkan orang.

Kembali pada hapalan dan nalar. Saya sangat merasa tertantang dengan dua diksi ini. Minggu lalu, saya mencoba mengajarkan sebuah pola yang bukan baru, tetapi lebih saya tegaskan oada sekelompok siswa asrama yang saya beri pelajaran tambahan. Secara frontal saya katakan, saat anda membaca soal dan menemui kesulitan karena keraguan mencari ketepatan pilihan jawaban, berpikirlah ‘kira-kira apa sih yang dipikirkan penulis soal untuk mengecoh saya?’. Saya beritahu ke siswa bahwa saat saya membuat soal, dalam pikiran saya adalah saya akan memberi dua kunci, it will not be so easy for you to make it up and there will be a hope that you can finish it. Bagi saya ini art. Dalam kehidupan, selalu tidak akan mudah menyelesaikan setiap masalah tetapi kita selalu harus memberi dan menemukan harapan menyelesaikannya. Bertahun-tahun saya menyakan pada para siswa apakah mereka dapat mengerjakan soal? Mereka.selalu berkata, ‘Kami tahu siapa yang membuat soal seperti itu. Bisa dikerjakan meski tidak mudah dan selalu harus mencari solusinya beberapa tingkat’.

Inilah yang saya maknakan bahwa mereka tidak perlu menghapal. Mereka mungkin perlu tahu teori, konsep, jenis/tipe, struktur tentang sesuatu tetapi mereka harus menggunakam nalar bahkan kecerdikan untuk menyeelesaikannya. Suatu saat seorang siswa menghampiri saya di sebuah siang, ‘Ibu, saya suka diajar ibu, karena saya akhirnya menggunakan apa yang ibu katakan untuk menyelesikan masalah diri saya’. Saya surprised, tetapi saya tersenyum senang dan mengatakan bahwa sekolah adalah tempat kamu belajar tentang hidup, bahkan saat kamu bermasalah dengan teman atau dengan guru, menyelesaikannnya dengan baik akan menjadi modal kamu kelak saat hidup mandiri di masyarakat.

Jadi, apakah sekolah perlu bersaing dengan bimbel?
Mungkin orang moderat mengatakan bisa dijadikan sebagai pola relasional. Tetapi saya sendiri akan merasa tersinggung jika murid saya mengatakan, ‘penjelasan guru les/atau bimbel lebih baik dari penjelasan ibu’.

Mungkin saya harus sekolah lagi jika saya mendapatkannya.

LayarSentuh, 8 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *