Guru Harus Berani Menulis

Guru harus berani menulis. Agar menjadi berani, guru hendaknya mengambil topik-topik yang dikuasainya. Dengan begitu, tulisan yang disajikan dapat tuntas dan mampu menyampaikan informasi secara lengkap kepada pembaca.

Untuk dapat menguasai sebuah persoalan, dapat dilakukan dengan banyak membaca. Teori-teori perlu dipelajari dan dikutip. Dengan begitu, kepercayaan diri dan keberanian guru akan tumbuh. Membaca dapat diibaratkan dengan pedagang yang kulakan. Tanpa kulakan, pedagang tidak akan memiliki barang untuk dijual.

Demikian disampaikan Prof. Suyanto, Ph.D. dalam seminar yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (15/5). Lebih lanjut, Dirjen Mandikdasmen periode 2005-2013 itu mengungkapkan, membaca ini masih merupakan tantangan besar bagi masyarakat Indonesia yang rata-rata masih berbudaya lisan. Untuk itu, seorang penulis harus memliki motivasi.

Prof. Suyanto mencontohkan, motivasi internal yang dimilikinya ketika muda adalah takut miskin. Oleh karena itu, dia rajin menulis. Dirinya mengaku pernah menulis hingga di lima belas koran. Honor yang didapat dari tulisan cukup banyak sehingga dirinya menolak mencalonkan sebagai dekan.

Sementara itu, motivasi eksternal bisa berupa aturan. Sebagai contoh, ketika menjadi rektor, Anggota BNSP periode 2019-2024 ini mengangkat semboyan publish or perish, ‘publikasi atau punah’. Hal ini terbukti manfaatnya saat ini, para dosen diwajibkan menulis dan tidak bisa naik pangkat tanpa publikasi.

Setelah memiliki motivasi, guru perlu menyajikan tulisan secara baik. Lagi-lagi, diperlukan kebiasaan membaca. Banyak membaca secara tidak langsung memberi kesempatan untuk melihat model-model tulisan yang dapat ditiru. Bahan bacaan diibaratkan seperti sebuah iklan yang bisa dipelajari dan menjadi rujukan.

Selanjutnya, yang diperlukan adalah latihan menulis itu sendiri. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta periode 1999-2015 ini mengibaratkan dengan orang makan. Oleh karena sudah terbiasa dan terlatih, dalam keadaan gelap dan tidak bisa melihat pun orang bisa memasukkan makanan ke mulutnya.

Permasalahannya, membiasakan menulis sehingga menjadi terlatih, bukanlah perkara mudah. Prof. Suyanto membagi tipe masyarakat menjadi enam, yaitu (1) doing nothing, (2) watching, (3) listening, (4) reading, (5) writing, dan (6) learning society. Berdasarkan pembagian tersebut, writing dan reading society berada pada posisi kedua dan ketiga. Mustahil menjadi penulis yang baik tanpa masuk ke kelompok learning society. Atas dasar inilah, guru perlu berusaha dengan berlatih dan meningkatkan kompetensi sehingga menjadikan menulis sebagai budaya.

Dalam sambutannya, Ketua IGI Daerah Istimewa Yogyakarta (Sugeng Andono), mengungkapkan bahwa seminar daring menggunakan Webex ini diikuti 940 pendaftar. Mereka yang tidak berhasil masuk ke aplikasi, mengikuti siaran langsung di Youtube. Seminar bertema “Menggerakkan Budaya Menulis di Era Pandemi Covid-19” itu dipandu oleh Muhtadi Zubeir (moderator) dan Eko Pratiwiningsih (host) dan berlangsung pukul 12.30 s.d. 14.00 WIB.

sumber link : https://suyanto.id/guru-harus-berani-menulis/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *