Siapkah Pengajar Indonesia Mengimplementasikan Pembelajaran Di Ruang Belajar Virtual?

Oleh: Nicky Rosadi, S.S., M.Pd.

Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Indraprasta PGRI

Pelaksanaan pendidikan yang biasa dilakukan secara tatap muka, tiba-tiba saja harus diakomodasi melalui dunia maya. Hal ini terjadi lantaran adanya protokol tetap penanganan Covid-19 yang mewabah di penjuru dunia. Indonesia terimbas. Pelaksanaan pendidikan melalui wadah dalam jaringan (daring), mau tidak mau, harus dilakukan. Sebagian lembaga mungkin tidak asing dengan pelaksanaan ini, namun, bagi beberapa lembaga yang masih asing dengan metode pembelajaran jarak jauh maupun daring ini jelas mengalami “kebingungan”.

Pembelajaran yang dilakukan secara daring ini, menimbulkan pertanyaan besar, “Bagaimana sebenarnya pelaksanaan pembelajaran secara daring ini dilakukan? Apakah cukup dengan memberikan tugas? Atau perlu ada pendampingan hingga siswa memahami materi yang disampaikan?” Masalahnya adalah, paradigma pembelajaran daring yang dilakukan bisa jadi tidak sama antarpengajar di Indonesia.

Dalam pelaksanaan di lapangan, jika diklasifikasikan, terdapat tiga kecenderungan pola pengajaran jarak jauh yang terjadi belum lama ini. Pertama, pembelajaran yang dilakukan melalui bantuan aplikasi pengirim pesan obrolan. Pembelajaran biasanya diakomodasi melalui teks  (textual based learning) yang dikirimkan ke aplikasi obrolan. Pengajar menyampaikan materi melalui perangkat yang disepakati, misalnya aplikasi WhatsApp, Telegram, dan sebagainya. Masalah yang muncul adalah, teks tidak dapat mengakomodasi mimik, gestur, dan intonasi.

Maka tak heran, jika kadang terjadi kesalahan penafsiran dalam penerimaan informasi. Selain itu, manajemen waktu pelaksanaan pembelajaran pun menjadi tak terlihat. Karena teks ini bisa disampaikan dan dibaca kapan saja, maka respons yang muncul juga seolah tak terkendali waktunya. Baik pengajar maupun siswa, seolah berada pada kondisi belajar sepanjang waktu.

Kedua, terdapat pembelajaran yang dilakukan melalui bantuan aplikasi pertemuan virtual. Melalui aplikasi ini, pembelajaran bisa disampaikan secara luwes, seolah pengajar tengah menghadapi siswanya. Proses pembelajaran tatap muka seolah terjadi. Semua materi disampaikan dalam bentuk video (video based learning). Banyak platform yang kini bermunculan untuk mengakomodasi kebutuhan ini. Mulai dari Zoom.us, Jit.si, YouTube Live, dan sebagainya. Pembelajaran terasa begitu interaktif.

Guru menjelaskan, dan siswa dapat bertanya melalui fitur chat. Namun sayangnya, selain waktu yang terbatas, penggunaan video dalam aktivitas pembelajaran ini juga memakan kuota internet yang tidak sedikit. Memang, dalam praktiknya, manajemen waktu bisa terjadi. Semisal, pelajaran A dapat kita lakukan selama 1,5 jam dan dapat kita tutup saat sudah mencapai durasi itu. Namun akses yang diperlukan untuk mendapatkan pembelajaran itu, jelas perlu dipertimbangkan.

Jika satu pelajaran saja sudah menghabiskan kuota internet 300-an megabyte, dalam sehari terdapat tiga pelajaran, maka siswa paling tidak memerlukan 1 gigabyte sehari untuk bisa mengikuti pembelajaran secara penuh. Mereka mungkin tidak “menjerit” habis di ongkos, tapi mereka “menjerit” di penggunaan kuota yang melejit. Belum lagi jika kita bicara masalah kualitas internet di satu daerah dengan daerah lain yang masih belum merata. Bisa jadi, aksesibilitas pembelajaran tersebut “terganggu”.

Ketiga, beberapa pengajar mungkin sudah mampu mengaplikasikan penggunaan learning management system. Entah yang berupa Google Class Room atau Moodle. Setiap materi tinggal kita masukkan dan sampaikan melalui platform ini. Bisa berupa materi bacaan, presentasi, atau link video yang bisa diputar kapan saja. Siswa dapat mengaksesnya kapan saja tanpa mengganggu waktu istirahat pengajar. Independensi belajar sangat terlihat di sini.

Namun sayangnya, akibat kemudahan ini, beberapa pengajar hanya mengunggah materi mereka begitu saja. Mereka merasa materi yang disampaikan dapat dipahami secara merata oleh siswa-siswanya. Padahal, pemahaman tiap siswa jelas berbeda. Ada beberapa siswa yang perlu pendampingan dalam memahami materi yang disampaikan. Di sini, interaksi antara pengajar dan siswanya seolah tak terjadi.

Berdasarkan fenomena tersebut, kita semestinya menyadari bahwa kegiatan pembelajaran via daring tak ubahnya pembelajaran tatap muka yang biasa kita lakukan. Bukan tentang di mana proses belajar terjadi, namun tentang bagaimana proses belajar semestinya terjadi. Ruang belajar yang semula terjadi secara nyata, kini kita pindahkan ke ruang virtual hingga terbentuklah ruang belajar virtual. (bersambung)

Sumber link : https://www.duniadosen.com/siapkah-pengajar-indonesia-mengimplementasikan-pembelajaran-di-ruang-belajar-virtual/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *