Radio Antar Penduduk Indonesia

Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) telah Berjaya pada masanya. Mereka yang tergabung dalam komunitas RAPI merasakan benar manfaatnya. Disaat komunikasi belum seefisien sekarang, RAPI menjadi radio alternative pilihan untuk berkomunikasi. Pesawat telepon, jaringannya masih terbatas dan mahal. Hanya orang tertentu yang dapat memiliki. Pesawat Radio, hanya satu arah. Itupun juga bagi yang memiliki.

RAPI daya jangkauannya luas. Siapapun bisa memiliki, dengan catatan telah mendapatkan ijin dari pihak yang berwewenang. Memanfaatkan gelombang berkisar 3 – 30 MHz, dengan media High Frequency (HF) dan Short Wave (SW), komunikasi ini dapat berlangsung dua arah, bahkan lebih. Jangan sekali-kali masuk di frekuensi 3 – 30 KHz. Itu zona militer. Keamanan negara.

Komunikasi antar pengguna RAPI telah banyak membantu kebutuhan masyarakat, seperti peristiwa bencana alam, kewaspadaan peristiwa alam. Tak jarang Lembaga pemerintah yang masih di pedalaman, menggunakan radio ini. RAPI juga digunakan masyarakat untuk mengabarkan meninggalnya keluarga atau kerabat yang jarahnya berjauhan. 

Mengapa RAPI ini menjadi idaman saat itu? Karena komunikasi tanpa kabel dengan memanfaatkan gelombang radio. Media transmisinya menggunakan perambatan gelombang radio, yang bertindak sebagai pembawa sinyal informasi. Kehadiran teknologi informasi ini memang tak lepas dari perkembangan piranti elektronika saat itu. Kegemaran merangkai elektronika sangat marak, sehingga beberapa alat bantu untuk meringankan beban manusia dapat dipenuhi dengan hadirnya peralatan elektronika.

Berawal dari Citizen Band Radio (Radio CB) yang hanya antar personal, tapi jangkauannya bisa antar negara. Di tahun 1958, mereka membentuk kelompok penyuka Radio CB, dengan nama Federal Communications Commision (FCC). Mulanya, Radio CB dibawa masuk ke Indonesia hanya sebagai souvenir. Lama kelamaan Radio CB sebagai hobi. Tak jarang ditemukan radio CB masuk sebagai barang seludupan.  

Kehadiran Radio CB, dalam perkembangannya ternyata membawa dampak yang buruk. Berita-berita yang diinformasikan tidak benar (sekarang disebut hoax). Silang sengkarut perputaran informasi menyebabkan keresahan masyarakat. Oleh karenannya pemerintah memandang perlu untuk menertibkan.

Terbitnya Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor SI. 11/HK.501/Phb-80  tanggal 6 Oktober 1980 tentang Perizinan Penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk, benar-benar telah menelikung keberadaan kelompok masyarakat yang suka memberi informasi tidak benar. Disusul kemudian Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi tentang pendirian organisasi RAPI. Dimulailah iklim baru tentang etika berkomunikasi dengan memanfaatkan Radio Amatir.

Akankah RAPI akan berkibar lagi seperti dulu? Di saat komunikasi semakin mudah diraih. Kepemilikan gadget yang semakin mudah didapat. Persaingan penyedia pulsa, paket data sebagai sumber energi untuk berkomunikasi semakin ketat yang menyebabkan harga semakin miring.

Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kembali diangkat menjadi sebuah diskusi yang menarik lewat video conference. Adalah Jaringan Internet Sekolah Daerah Istimewa Yogyakarta (JIS-DIY), yang berinisiatif mencuatkan Kembali tentang Radio Penduduk. Nara sumber tunggal Bapak Eko Pramono, S. Pd, M.Pd, berharap agar RAPI dapat berkontrubasi penuh dikala pandemic Covid-19.

Beliau juga berkeinginan merangkul kembali komunitas RAPI untuk membantu dalam kependidikan, khususnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bagiamanapun juga RAPI akan tetap membantu masyarakat agar bangunan sosial kemasyarakatan lebih berkebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *