Siapkah Pengajar Indonesia Mengimplementasikan Pembelajaran Di Ruang Belajar Virtual? (bagian ke-2)

Interaksi

Dalam pembelajaran, interaksi menjadi hal penting. Melalui interaksi ini, kita dapat memastikan siswa kita sudah memahami materi kita atau masih perlu penjelasan tambahan. Untuk itu, pastikan interaksi dapat berjalan dengan baik. Aktifkan pesan obrolan yang memungkinkan untuk diakses saat pembelajaran berlangsung. Tanya jawab yang bersifat krusial dapat dilakukan saat jadwal materi disampaikan.

Namun, tanya jawab yang bersifat memastikan dapat dilakukan kapan saja dengan memperhatikan prinsip kesopanan. Sebagai pengajar, kita tentu memiliki privasi waktu dan menjaga profesionalitas kita. Untuk itu, perlu diberi pemahaman kepada siswa kita terkait kapan waktu yang bisa kita sediakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

Aksesibilitas

Sebuah tempat belajar yang baik, biasanya adalah tempat belajar yang dapat dijangkau dengan mudah. Kita memahami bahwa beberapa siswa kita mencapai ruang belajar dengan berjalan kaki, naik sepeda, menggunakan sepeda motor, atau kendaraan lainnya. Jelas ini tergantung dari mana mereka berasal.

Ada yang jaraknya dekat, ada yang jauh. Ada yang berasal dari desa, ataupun kota. Sama halnya dengan siswa kita yang mengakses ruang belajar virtual. Kecepatan dan koneksi tiap provider yang digunakan oleh siswa kita, jelas berbeda.

Kita mungkin bisa merekomendasikan provider yang terbaik, seperti halnya kita bisa berkata, “Pakai motor saja agar bisa cepat sampai.” Atau, “Naik mobil saja biar tidak kehujanan.” Namun tetap, ada beberapa pertimbangan yang siswa kita gunakan dalam memilih provider tersebut. Kita tidak bisa memaksa mereka.

Selain itu, penyebaran jaringan koneksi juga tidak merata. Meski mereka menggunakan provider yang sama, bisa jadi, koneksi yang mereka dapatkan akan berbeda. Hal ini terjadi karena kualitas jaringan provider tersebut berbeda di tiap titik lokasinya. Untuk itu, layaknya sistem zonasi yang mengukur jarak tiap siswa ke ruang belajar agar akses belajar menjadi mudah, seyogianya pengajar juga dapat memetakan bagaimana karakteristik siswa kita dalam memilih provider selulernya.

Penggunaan teks dalam ruang belajar virtual mampu menekan penggunaan kuota siswa kita, namun bukan berarti menggunakan video menjadi “haram” hukumnya. Kita bisa menyematkan video, hanya saja, perlu pemakluman untuk mengakses video tersebut dengan memberikan jangka waktu akses yang lebih lama. Pastikan bahwa materi-materi yang ada di ruang belajar virtual kita dapat diakses dengan mudah oleh seluruh siswa kita.

Manajemen Waktu

Belajar di dalam ruang kelas merupakan situasi formal. Ada aturan-aturan terkait pelaksanaan pembelajaran di dalamnya. Mungkin kita tidak menyadarinya, namun selalu ada komponen pembuka-inti-penutup dalam pelaksanaannya. Begitu pula pelaksanaan pembelajaran dalam sebuah ruang belajar virtual. Sudahkah kita memperhatikan komponen pembuka-inti-penutup? Komponen pembuka biasa kita lakukan untuk presensi, pengantar, atau pretest.

Komponen inti adalah penyampaian materi inti pembelajaran yang bisa kita sampaikan melalui teks, ceramah, diskusi, dan semacamnya. Komponen penutup dalam pembelajaran biasa kita lakukan untuk memastikan peserta didik memahami apa yang telah kita sampaikan. Bentuknya bisa berupa tanya jawab, tugas, atau posttest.

Dalam sebuah pembelajaran, paling tidak pembagian komponen ini bisa kita terapkan. Sehingga, manajemen waktu pembelajaran menjadi jelas. Berapa lama waktu yang digunakan untuk pembuka, berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyampaikan materi inti, dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk memberikan tugas (harian atau mingguan).

Simpulan

Pada akhirnya, belajar secara daring bukanlah tentang aplikasi apa yang kita gunakan untuk membelajarkan siswa-siswa kita. Tidak semestinya kita sibuk memperdebatkan platform yang satu lebih baik dari platform lainnya. Akan tetapi, seyogianya kita menyadari bahwa terpenting adalah menerapkan prinsip-prinsip pengajaran.

Mengajar adalah sebuah proses menjadikan seseorang yang tidak tahu menjadi tahu. Interaksi antara pengajar dan siswa menjadi kunci penyampaian informasi. Ruang penyampaian informasi ini haruslah layak dan mudah diakses agar pertemuan antara pengajar dan siswanya dapat terjadi dan melahirkan interaksi yang apik dan baik.

Selain itu, penyampaian interaksi ini juga perlu diatur sedemikian rupa agar siswa tak merasa dipaksa atau terpaksa “memakan” informasi dari para pengajarnya. Lalu, siapkah pengajar Indonesia mengimplementasikan pembelajaran di ruang belajar virtual?

sumber tulisan : https://www.duniadosen.com/siapkah-pengajar-indonesia-mengimplementasikan-pembelajaran-di-ruang-belajar-virtual/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *