Pandemi Dan Tercabiknya Rasa Ke-Kita-An Sebagai Bangsa

oleh : Oleh: Dr(eco). Dr(sos). Basrowi, M.Pd, M.E,sy.

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan dan ekonomi manusia tetapi juga berdampak luas pada ke-kita-an sebagai Bangsa Indonesia (Surbakti, 2020). Covid-19 juga telah menggugah kekitaan sebagai bangsa akan pentingnya pemerataan pembangunan baik di bidang kesehatan, air bersih, komunikasi (jaringan internet), pendidikan, listrik, pangan, sarana trasportasi, dan bidang lainnya.

Air mata Walikota Surabaya dan Gubernur Jawa Timur yang begitu berharap adanya bantuan kendaraan laboratorium yang mampu melakukan Swap Polymerase Chain Reaction (PCR) secara cepat juga merupakan wujud gambaran tumbuhkan rasa kekitaan sebagai bangsa yang kurang tercukupi akan kebutuhan sarana kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Itu di Jawa, lalu bagaimana kondisi di luar Jawa termasuk di Indonesia Bagian Timur.

Penyebaran Dokter Tidak Merata

Penyebaran jumlah dokter yang tidak merata juga telah menggugah rasa kekitaan sebagai bangsa, karena menjadi beban tersendiri bagi daerah Indonesia Bagian Timur yang kurang tercukupi jumlah dokternya, termasuk tenaga kesehatan lainnya.

Dari sebanyak 168 ribu dokter mereka tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai contoh jumlah dokter yang bertugas di Jawa Barat 20.929 orang, DKI Jakarta 18.905 orang, Jawa Timur 15.948 orang, Jawa Tengah 12.358 orang, Sumatera Utara 10,541 orang, Banten 6.645 orang, Sulawesi Selatan 4.722 orang, Bali 4.091 orang, DIY 4.052 orang, NTB 1.354 orang, Papua 1.037 orang, NTT 926 orang, Maluku 503 orang, Maluku Utara 251 orang, Sulawesi Barat 154 orang, dan di daerah lainnya (Kemenkes, 2018).

Ketimpangan Jumlah Rumah Sakit

Ketimpangan Indonesia Bagian barat dan timur juga sangat tampak pada jumlah rumah sakit yang ada. Mayoritas rumah sakit lebih banyak di Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Bali. Sementara Indonesia bagian timur jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.

Sebagai gambaran, jumlah rumah sakit di Aceh ada 70 RS, Sumatera Utara 216 RS, Lampung 76 RS, Jawa Barat 347 RS, DKI Jakarta 201 RS, Jawa Tengah 288 RS, DIY 82 RS, Jawa Timur 379 RS, Banten 111 RS, NTT 50 RS, Kalimantan Barat 48 RS, Papua 43 RS, Papua Barat 18 RS, Maluku Utara 20 RS, Maluku 29 RS, Sulawesi Barat 12 RS, Sulawesi Tenggara 34 RS (Kemenkes 2018).

Ketercukupan Air Tidak Mendukung Protokol Kesehatan

Pandemi juga telah menyentuh kekitaan sebagai bangsa akan pentingnya ketercukupan air bersih di seluruh wilayah di Indonesia.  Kalau melihat kekeringan di NTT dan kondisi air PAM yang hanya mengalir seminggu sekali setiap hari Sabtu, tentu belum mampu mendukung protokol kesehatan yang harus sering cuci tangan dan mandi sepulang dari bepergian. Termasuk mencuci seluruh baju yang habis dikenakan dari luar.

Kondisi air PAM di Jakarta saja, huruf AM nya menurut Surbakti (2020) merupakan singkatan dari Air Mandi bukan Air Minum. Lalu, bagaimana kualitas air PAM di Indonesia Bagian Timur sana? Tentulah, semua itu mampu menggugah rasa kekitaan sebagai bangsa.

Pandemi Merubah Cara Bersekolah dan Bekerja

Rasa kekitaan sebagai bangsa semakin menegas manakala Pandemi telah mengubah cara bersekolah dan berkerja yang mengharuskan penggunaan bantuan internet. Dari 320 ribu lebih Sekolah/Madrasah, hanya ada 48% sekolah/madrasah yang terjangkau Internet, selebihnya, 52% sekolah/madrasah belum terjankau internet (PGRI Pusat, 2020).

Untuk menjaga kebersihan di sekolah, data dari Kemendikbud (2018) menunjukkan bahwa sebanyak 30,53% sekolah tidak mempunyai sumber air bersih, dan 12,09% di antaranya tidak mempunyai sarana sanitasi (Kemendikbud, 2019). Lalu bagaimana anak-anak sekolah dapat mencuci tangan dengan bersih, sementara sepertiga sekolah tidak mempunyai sumber air bersih apalagi sarana sanitasi.

Lebih menegas lagi rasa kekitaan sebagai bangsa manakala mencermati ketersediaan aliran listrik bagi siswa yang ingin belajar menggunakan internet. Termasuk ASN yang ingin WFH pun mengalami hambatan tatkala dihadapkan pada kesulitan akses pada jaringan internet dan listrik.

Ketercukupan pangan untuk masyarakat Indonesia Bagian timur pun masih sangat jauh dari kata cukup. Mayoritas tanah pertanian yang ada hanya bersifat tadah hujan, belum banyak yang terairi oleh sarana irigasi dari waduk laksana di Jawa. Akhirnya, jumlah produk pertanian bahan pangan dan/atau pengganti pangan menjadi tidak maksimal.

Berterima Kasih Pada Pandemi

Dengan kondisi yang seperti itu, apakah harus berterima kasih kepada pandemi yang telah membukakan mata hati akan rasa kekitaan sebagai bangsa yang belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia? Ataukah kita harus protes keras kepada para koruptor yang telah membuat ketimpangan yang begitu lebar antara barat dan timur? Semuanya harus disikapi dengan arif.

Kehadiran negara dalam pemerataan pembangunan di bidang kesehatan, air bersih, pendidikan, telekomunikasi, transportasi, pertanian, penerangan, dan bidang lainnya sangat ditunggu-tunggu oleh mereka yang menjaga keutuhan bangsa Indonesia di bagian Timur. Begitu juga pemberantasan korupsi di segala bidang termasuk di bidang kesehatan, sarana pendidikan, sarana komunikasi, kelistrikan, dan transportasi perlu di ‘gas’ lebih ‘pol’ lagi.

Kelancaran rantai pasok melalui tol laut, udara dan darat yang sedang diupayakan oleh pemerintah diharapkan dapat memperlancar arus barang dan jasa. Dengan kelancaran semua itu, diharapkan dokter, guru, dan tenaga ahli lain menjadi semakin tertarik ditempatkan di daerah 3T. Rantai pasok alat-alat kesehatan, alat pertanian, alat penerangan, alat komunikasi, dan berbagai peralatan lain diharapkan menjadi semakin lancar.

Digugah akan Rasa Kekitaan sebagai Bangsa

Para pengusaha dan investor pun, perlu terus digugah akan rasa kekitaan sebagai bangsa. Berbagai kemudahan perizinan dan keringanan pajak yang diberikan Pemerintah kepada pengusaha yang membuka usaha di wilayah timur Indonesia, belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain menyebabkan banyaknya pengangguran di sana, juga mendorong terjadinya urbanisasi ke kota-kota Indonesia bagian barat. Pembangunan ekonomi di Indonesia bagian timur menjadi tidak maksimal.

Jangan sampai jumlah korban akibat pandemi lebih banyak menimpa mereka yang berada pada wilayah yang serba kekurangan baik bidang kesehatan, air bersih, jaringan internet, listrik, maupun pangan. Cukuplah menjadi evaluasi bersama, bahwa rasa kekitaan sebagai bangsa harus semakin menegas dengan adanya pandemi ini.

Semoga saja mereka yang berada pada daerah yang serba minus, tetap mampu menjaga kedisiplian dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Karena kedua hal itu menjadi kunci keberhasilan masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid-19).

sumber tulisan : https://www.duniadosen.com/pandemi-dan-tercabiknya-rasa-ke-kita-an-sebagai-bangsa/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *