Anak Berbohong, Bersyukurlah

oleh : Hatib Rahmawan

Suatu ketika Arzachel ditanya ibunya, “Kamu dari mana?” Kemudian ia menjawab,. “Arza menangkap ikan besar, mah. Di sungai Amazon.” Ibunya heran dan beranggapan anaknya mengarang sebuah cerita. 

Dalam kesempatan lain, Arzachel menceritakan hal aneh lainnya. “Mah, Arza melihat ikan paus di sungai. Ikan Paus hidup di sungai to mah.” Si Ibu terkadang mengeluhkan sikap anaknya tersebut. Banyak hal yang ditanyakan, tetapi si Ibu mendapatkan jawaban yang bertolak belakang. 

Hal itu tidak hanya terjadi pada ibunya. Melainkan ketika Arzachel bercerita kepada teman-temannya. Terkadang apa yang diceritakan, kepada teman-temannya sesuatu yang tidak mungkin dialaminya. Misal ia berpetualang di hutan belantara. Melihat harimau dan hantu. Alhasil, si Ibu menyimpulkan anaknya suka berbohong. Miris sekali. Sangat disayangkan. 

Anak dan Konsep Bohong

Penggalan kisah di atas merupakan salah satu contoh kasus model kebohongan pada anak. Kisah di atas mungkin juga terjadi pada anak-anak lainnya. Permasalah dari kisah di atas sesungguhnya bukan terletak pada perilaku bohong anak. Melainkan, pada orang tua yang gagal memahami perilaku bohong anaknya. 

Bohong yang sesungguhnya terjadi pada remaja dan orang dewasa. Bukan pada anak-anak. Dalam benak anak tidak ada konsep bohong. Ketika anak tumbuh remaja, penalaran mulai sempurna, dicirikan dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk, serta perintah dan larangan, saat itulah konsep bohong baru ada. 

Jadi anak-anak tidak pernah berbohong. Kebohongan anak hanyalah imajinasi. Akibat dari ketidakmampuan mereka membedakan fantasi dan realita yang sesungguhnya. Namun, sayang, sebagian orang tua tidak memahami dunia imaji anak. Akhirnya, kebohongan pada anak dianggap keburukan.

Ada orang yang berbohong untuk menutupi kebenaran. Ada orang berbohong untuk menjaga harga diri. Ada orang bohong untuk menyesatkan. Semua hal negatif tentang bohong tersebut hanya terjadi pada orang yang berakal. Itu berawal dari kematangan intelektual, yakni masa remaja dan dewasa. 

Model kebohongan seperti itulah yang dilarang dalam kehidupan. Tidak ada alasan orang yang bernalar untuk berbohong. Kecuali, dengan alasan menyelamatkan diri, mendamaikan, dan peperangan. Dalam perang kebohongan adalah strategi. 

Anak Bohong Tanda Kreatif

Kisah di atas menunjukan bahwa kebohongan adalah ciri anak yang kreatif. Mengapa demikian? Kreativitas muncul dari otak kanan. Ketika anak berbohong, berarti otak kanannya telah bekerja. Di otak kanan itulah pusat kreativitas kelak berproses. 

Bahkan dari otak kanan akan menghasilkan inovasi, yakni hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jiwa seni, relasi sosial, kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi dengan lingkungan juga bersumber dari otak kanan. 

Jadi kebohongan anak adalah tanda kecerdasan imajinasinya berjalan dengan baik. Cuma orang tua saja yang gagal mendefinisikan kecerdasan tersebut. Jangan bunuh kecerdasan tersebut. Arahkan dengan bijak. Agar kita tidak menyesal di kemudian hari. 

Dalam artikel “Lay Theories and Creativity” yang ditulis Simone M. Ritter dalam buku Science of Lay Theories (Claire M. Zedelius, 2017, 95) membukti hal tersebut. Ada hubungan yang kuat antara kebohongan dan kreativitas anak. 

Dari alasan itulah orang tua harus bersyukur melihat proses kreatif tersebut. Sebab hal tersebut tidak termasuk bagian dari kekurangan anak. Bahkan sebaliknya, hal tersebut menunjukan sebuah kecerdasan yang tidak semua anak memilikinya. 

Anak Berbohong Apakah Berbahaya?

Dalam buku Unlimited Potency of Brain yang ditulis Taufiq Pasiak menjelaskan bahwa berbohong dapat merusak tubuh. Sebab kebohongan menyebabkan kontradiksi organ dan hormon dalam tubuh. 

Orang yang berkata bohong tidak dapat mengingkari bukti-bukti fisiologis yang terjadi dalam dirinya. Sebab tidak semua dapat diatur. Mulut dan ujaran verbal dapat diatur, tetapi detak jantung, keringat dingin yang bercucuran, otot-otot di bagian bibir, dan bulu kuduk menunjukkan pertentangan. 

Inilah yang mendasari mesin pendeteksi kebohongan dapat berjalan secara akurat. Bahkan, pakar neurosain yang sudah berpengalaman, dapat melihat gejala kebohongan dari wajah dan arah mata. Kontradiksi fisiologis seperti ini memang dapat merusak diri. 

Pada anak, gejala tersebut tidak nampak secara jelas. Sebab, anak belum memahami konsep bohong. Pada anak, berbohong lebih menunjukan proses imajinasi dan kreativitas. Berbeda dengan remaja dan orang dewasa yang sudah mengenal harga diri. Berbohong dapat menjadi alat untuk mempertahankan martabat. 

Itulah anak. Ia polos. Apa adanya. Selalu jujur. Tidak ada yang disembunyikan. Orang tualah yang membuat anak menjadi pendusta. Bagaimana mungkin? 

Apabila anak dimarahi orang tua saat berkata yang aneh, bertolak belakang, dan dusta (menurut orang tua). Sejak saat itulah dia tidak berani lagi mengungkapkan imajinasinya. Proses kreatif yang dialaminya tidak akan pernah diungkapkan lagi. Kecerdasan itu terkubur dalam dirinya sendiri. 

Perhatikanlah wajah anak kita ketika mereka berbohong dan dimarahi. Dia takut, gemetar, dan gelisah. Ketika anak jujur dengan kata “ya” atau “tidak” sesuai dengan harapan orang tua, hal yang sama juga terjadi. Anak tetap gelisah, takut, dan sedih. Sebab, anak merasa sudah tidak ada lagi tempat mengekspresikan gagasan kreatif.

sumber link : http://pundi.or.id/pundi/artikel?post=83

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *